Pakar: Pentingnya Penguatan Teori Komunikasi di Era Transformasi Digital

BOGOR, 7 Mei 2026- Guru Besar ilmu komunikasi dari Universitas Sebelas Maret (UNS)  (UNS) Surakarta , Prof. Prahastiwi Utari, PhD,  menekankan pentingnya penguatan teori komunikasi di Indonesia di tengah derasnya transformasi digital dan dominasi perspektif global dalam produksi ilmu pengetahuan. 

Gagasan tersebut dipaparkan  Prahastiwi dalam presentasi berjudul “Penguatan Teori Komunikasi Indonesia dalam Lanskap Global Selatan dan Transformasi Digital” pada acara Simposium Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi (ADPIKI) di Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Dalam paparannya, Prahastiwi yang juga merupakan Wakil Ketua Dewan Pakar ADPIKI, menyebut transformasi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara cepat. Namun di sisi lain, ketimpangan epistemik masih terjadi karena banyak konsep komunikasi global lahir dari konteks sosial tertentu lalu digunakan seolah bersifat universal.

Menurutnya, ilmu komunikasi Indonesia perlu memperkuat basis teoretisnya agar tidak hanya menjadi pengguna teori dari luar. Ia menilai Indonesia memiliki posisi penting dalam upaya Global Selatan memperjuangkan keadilan dalam produksi pengetahuan.

“Indonesia tidak cukup hanya menjadi lokasi penerapan teori,” demikian salah satu poin yang disampaikan dalam presentasi tersebut.

Prahastiwi menyoroti bahwa banyak penelitian komunikasi di Indonesia sebenarnya kuat dalam data empiris, tetapi belum cukup berani melahirkan konsep-konsep baru dari realitas sosial Indonesia sendiri. Akibatnya, riset komunikasi sering berhenti pada tahap verifikasi teori yang telah ada.

Ia menilai fenomena lokal selama ini lebih sering diposisikan sebagai objek penelitian, bukan sumber pengembangan konsep atau teori baru. Ketergantungan terhadap kerangka teori yang lahir dari konteks sosial berbeda juga disebut masih mendominasi dunia akademik Indonesia.

Dalam pemaparannya, Prahastiwi menegaskan bahwa penguatan teori komunikasi bukan berarti menolak teori global. Menurutnya, teori global tetap penting, tetapi harus dibaca secara kritis dan disesuaikan dengan konteks sosial budaya Indonesia.

“Penguatan teori bukan proyek isolasi intelektual. Ini adalah upaya memperluas pusat produksi pengetahuan,” tulisnya dalam materi presentasi.

Ia juga menolak anggapan bahwa penguatan teori identik dengan romantisasi lokalitas. Sebaliknya, langkah tersebut diarahkan untuk menempatkan Indonesia sebagai sumber pengetahuan yang mampu memberi kontribusi konseptual bagi perkembangan ilmu komunikasi dunia.

Prahastiwi menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk melahirkan teori komunikasi berbasis pengalaman lokal. Potensi itu berasal dari kekayaan budaya tak benda, tradisi lisan, praktik musyawarah, harmoni sosial, hingga pola relasi antara manusia, alam, komunitas, dan teknologi yang khas.

Menurutnya, komunikasi di Indonesia tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga melalui simbol, ritus, adat, serta nilai-nilai hidup bersama yang berkembang dalam masyarakat. Kekayaan tersebut dinilai dapat menjadi landasan penting dalam pengembangan teori komunikasi Indonesia di masa depan.(*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *