BOGOR, 7 Mei 2026 – Guru Besar Ilmu Komunikasi Prof. Dr. Anter Venus, M.A. Comm. mengingatkan masyarakat terhadap bahaya banjir informasi di era digital dan kecerdasan buatan (AI) yang dapat memengaruhi cara manusia memahami realitas sosial.
Hal itu disampaikan Anter Venus pada acara deklarasi pembentukan Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komukasi (ADPIKI) di Bogor, Kamis, dalam materi presentasi bertajuk “Siasat Komunikologis atas Banjir Informasi di Era Digital dan AI”.
Menurut Anter Venus, derasnya arus informasi saat ini belum tentu membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik, lebih tenteram, maupun lebih bijak. Ia menilai perkembangan teknologi digital justru memunculkan persoalan seperti misinformasi, disinformasi, hingga fenomena infodemi.
Dalam paparannya, ia mengungkapkan fakta konsumsi informasi masyarakat di era digital dan AI pada 2025–2026 yang semakin tinggi. Data menunjukkan konsumsi informasi mencapai 34 gigabyte per jam, penggunaan internet rata-rata enam jam per hari, serta waktu penggunaan media sosial mencapai 3,7 jam per hari.
Selain itu, pengguna media sosial telah mencapai 62,9 persen atau sekitar 180 juta orang, sementara penetrasi AI mencapai 59 persen dengan dominasi penggunaan oleh generasi Z dan milenial.

Anter Venus menjelaskan terdapat dua pandangan besar terkait banjir informasi. Pandangan naif menganggap semakin banyak informasi akan membuat masyarakat semakin kuat, kritis, dan bijak. Namun di sisi lain, pandangan skeptis menilai AI berpotensi membahayakan peradaban manusia serta memunculkan gejala information overload yang menyebabkan kelelahan dalam pengambilan keputusan atau decision fatigue.
Ia juga menyoroti fenomena infodemi yang kini semakin meluas melalui hoaks, fake news, filter bubble, digital fatigue, hingga post truth. Fenomena tersebut diperparah oleh kebocoran data dan dominasi algoritma dalam menentukan arus informasi publik.
Menurutnya, persoalan yang lebih serius adalah ketika sistem pemrosesan data dan algoritma mulai mengambil alih peran manusia dalam mengonstruksi realitas sosial. “Informasi bukan sekadar hasil olah data tapi ia pencipta realitas sosial melalui imajinasi kolektif,” demikian kutipan yang ditampilkan dalam presentasi tersebut dengan merujuk pemikiran Yuval Noah Harari.
Anter Venus menilai revolusi algoritma dapat membuat manusia menjadi “budak ciptaannya sendiri” ketika algoritma mengendalikan narasi sosial dan keputusan hidup masyarakat.
Sebagai solusi alternatif, ia menekankan pentingnya penyebaran informasi yang akurat, faktual, jelas, dan berbasis ilmu pengetahuan melalui komunikasi sains. Ia juga mendorong masyarakat untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan verifikatif, menjaga etika AI, melakukan detoks digital, mengendalikan screen time, serta meningkatkan perlindungan data pribadi.
Dalam perspektif teoritis komunikologis, Anter Venus menyebut era digital melahirkan komunikasi yang lebih egaliter, partisipatif, cair, personal, dan interaktif. Namun kondisi itu juga membuat kebenaran sering dipandang sebagai narasi yang berhasil memenangkan kontestasi di ruang publik digital.
Ia menambahkan berbagai teori komunikasi klasik maupun kontemporer tetap relevan digunakan untuk menganalisis fenomena digital saat ini, mulai dari uses and gratification, agenda setting, media dependency, hingga teori jejaring sosial dan konstruksi realitas sosial.(*)
-MM-


