Bogor, 7 Mei 2026- Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria, membuka ruang kolaborasi dengan Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi (ADPIKI). Ia berharap, APDIKI yang baru lahir mampu menjadi inspirasi riset-riset baru dan kuat dalam menjawab tantangan dan perubahan yang sangat cepat di bidang komunikasi.
”Kita berkomitmen berkolaborasi dengan semua pihak, dengan banyak asosiasi saya sangat terbuka dan menyambut kolaborasi dengan ADPIKI khususnya dalam mengembangkan riset-riset di bidang komunikasi yang terkini, yang bisa menjawab tantangan perubahan iklim, menjawab tantangan di era global, kita akan gandeng para ahli untuk bersama sama dengan BRIN menghadirkan riset riset-baru, riset-riset yang kuat,” kata Prof. Arif Satria, kepada sejumlah wartawan di acara deklarasi ADPKI di IPB International Convention Center, Bogor, Kamis 7 Mei 2026.

Deklarasi ADPIKI mengusung tema: “Ilmu Komunikasi Indonesia dalam Lanskap Global Selatan dan Transformasi Digital: Tantangan Etis-Profesional Dosen dan Masa Depan”. Melalui wadah asosiasi ini, para dosen dan peneliti diharapkan menjadi peletak dasar bagi mahasiswa dalam pengembangan ilmu komunikasi ke depan.
Prof Arif Satria menyebutkan ada lima tantangan ilmu komunikasi ke depan. Pertama, terjadinya pergeseran luar biasa antara dulu dan sekarang. Dulu, arus informasi didominasi media mainstrem, namun sekarang sangat tergantung pada kecepatan teknologi khususnya AI, tergantung pada kerja algoritma.
”Kita tahu di tahun 90-an, orang yang ‘ngetop’ orang yang sering diwawancara media ‘mainstream’.Sekarang semua orang adalah media, semua orang sumber berita, semua orang berbicara tentang berbagai hal,” terang Prof Arif.
Kedua, komunikasi tidak lagi bersifat netral. Hal yang paling krusial saat ini adalah pembentuk opini, siapa yang bisa membentuk opini maka dialah yang menjadi pemenang di media sosial sebagai sumber informasi utama di era digital.
Ketiga, over communication versus under connection. Sekarang manusia semakin banyak bicara tapi kurang mendengarkan, memiliki koneksi luas tapi kehilangan ke dalam relasi.
Keempat, tantangan komunikasi bukan lagi membuat konten, bukan lagi mengelola media, bukan lagi kampanye, tetapi yang terpenting adalah menjaga kualitas percakapan publik. ADPIKI diharapkan mengambil peran tersebut mengembalikan kualitas percakapan publik yang mempengaruhi perilaku kehidupan sehari-hari.
Kelima, Prof Arif Satria berpesan bahwa dosen dan para peneliti Ilmu Komunikasi harus mampu membangun kepercayaan, kredibilitas, dan kapasitas yang kuat. “Yang penting ke depan adalah kemampuan kita berempati, kepedulian, dan manajemen diri yang kuat,” imbuh Prof Arif. (*)
-MM-


