Simposium ADPIKI 2026 Soroti “Komunikasi Hati” sebagai Solusi Bencana Sosial dan Mental

JAKARTA, 7 Mei 2026 — Guru Besar ilmu komunikasi dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) , Prof.Dr.Puji Lestari, M.Si,  memaparkan konsep “Komunikasi Hati” sebagai pendekatan strategis untuk mengatasi meningkatnya bencana sosial dan mental di masyarakat. 

Dalam paparannya yang disampaikan di acara Simposium Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi (ADPIKI) 2026 di Bogor, Kamis, Puji menjelaskan bahwa bencana sosial merupakan peristiwa yang memicu kesedihan dan penderitaan akibat persoalan hubungan antarmanusia di tengah masyarakat. Sementara itu, bencana mental dipahami sebagai krisis psikologis yang meluas, ditandai trauma kolektif, kecemasan sosial, hingga hilangnya empati.

Menurut Puji yang juga Wakil Ketua Umum ADPIKI, kedua bentuk bencana tersebut saling berkaitan dalam sebuah siklus berulang. Konflik sosial dapat memicu tekanan mental, kemudian berkembang menjadi gangguan dalam kehidupan masyarakat dan melahirkan perilaku-perilaku destruktif yang memperburuk kondisi sosial.

Untuk memutus siklus tersebut, Puji menawarkan model “Komunikasi Hati” atau komunikasi berbasis hati. Model ini terdiri atas beberapa unsur utama, yakni olah pikir, olah rasa, empati, dan kedamaian batin.

“Olah pikir diarahkan pada pengembangan pemikiran positif untuk mengelola tugas dan hubungan intelektual. Sedangkan olah rasa berfokus pada pengelolaan emosi negatif seperti kelelahan, kebencian, dan dorongan impulsif menjadi energi positif dan rasa syukur,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya empati dan ketulusan dalam menjaga stabilitas emosi. Kemampuan memahami penderitaan orang lain dinilai menjadi fondasi utama untuk menciptakan hubungan sosial yang sehat dan harmonis.

Dalam presentasinya, dia mengatakan, konsep tersebut diterapkan pada sejumlah persoalan nyata, termasuk kasus kekerasan di pusat penitipan anak serta pelecehan seksual di lingkungan pendidikan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan, kompetensi Komunikasi Tulus terbukti mampu menekan berbagai perilaku negatif.

Data penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tersebut mampu mengurangi perilaku “silent treatment” atau perlakuan diam hingga 48,2 persen, serta menurunkan praktik perundungan sebesar 28 persen. Selain itu, model komunikasi ini juga meningkatkan ketahanan akademik sebesar 40,2 persen dan mendorong motivasi pasien kanker untuk sembuh hingga 71,5 persen.

Sebagai tindak lanjut, Puji merekomendasikan integrasi konsep Komunikasi Hati  ke dalam kurikulum pendidikan, termasuk penguatan literasi digital dan pengelolaan emosi di sekolah.

Dia juga mendorong strategi mitigasi berbasis pencegahan melalui penguatan komunikasi empatik sejak dini. Sementara dalam praktik sosial, keluarga dan sekolah dinilai perlu menjadi ruang utama untuk membangun budaya komunikasi yang harmonis, penuh empati, dan bebas kekerasan. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *