BOGOR, 7 Mei 2026- Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof.Dr. Arif Satria, mengingatkan ancaman besar bagi dunia pendidikan saat ini yakni dengan industri bersikap lebih menghargai sertifikat keahlian dibanding ijazah sarjana.
”Sekarang dunia industri menempatkan sertifikat keahlian lebih berharga daripada ijazah. Perguruan tinggi dianggap tidak responsif terhadap kebutuhan industri global,” kata Arif Satria, seusai menjadi pembicara kunci pada acara Deklarasi ADPIKI (Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi), di Bogor, Kamis 7 Mei 2026.

Arif berharap ADPIKI mengambil peran penting dalam menyadarkan pengelola pendidikan tinggi untuk tanggap terhadap perubahan tersebut. Ia mencontohkan, dunia komunikasi yang mengalami pergeseran cepat. ”Ketika kurikulum sudah berubah, pembelajaran berubah, maka kita harus memikirkan keahlian seperti apa yang kita butuhkan,” imbuhnya.
Arif Satria mengatakan, industri global di era 5.0 berkonsentrasi pada perbincangan kemanusiaan (humanity) dan keberlanjutan (sustainability). Karenanya industri membutuhkan para ahli di bidang komunikasi, ahli sosiologi, ahli antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Karena dampak yang dialami industri saat ini berpengaruh terhadap tenaga-tenaga kerjanya.
“Maka Ilmu komunikasi perlu didesain ulang. Para dosen dan peneliti ilmu komunikasi jangan hanya menjadi konsumen konsep, konsumen teori, dan konsumen pengetahuan. Riset-riset komunikasi harus sampai pada level menghasilkan teori besar,” kata Guru Besar IPB tersebut.
”Ke depan, ilmu komunikasi tidak bisa mandiri, tapi beririsan dengan disiplin ilmu lainnya seperti sosiologi, psikologi, dan lainnya, sehingga menjadi riset lintas disiplin. Masa depan ilmu komunikasi tergantung pada para dosennya. Maka ciptakan pengetahuan baru, sebagai modal riset universitas,” imbuhnya.
Peran ADPIKI, menjadi sumber inspirasi baru di dalam membangun ilmu komunikasi di era perubahan ini. Arif berharap bahwa setiap orang yang bergabung di ADPIKI mendapatkan inspirasi, mendapatkan nilai tambah.
”Hal yang kita kejar bukan hanya status, bukan angka kredit (KUM), tapi karena kita terpanggil untuk membangun kualitas dosen komunikasi yang relevan dengan masa kini. Jadikan ADPIKI sebagai charger supaya bisa menciptakan kepercayaan”.*
-MM-

